MAKALAH
KAPITA
SELEKTA PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan
Islam Sebagai Pendidikan Islam Masa Depan
Disusun Oleh :
Fajar Kurniawan (1219250006)
Dosen pengasuh :
Desi Firmala Sari, M.Pd.I
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
PROGRAM
STUDI TARBIYAH
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH BENGKULU
2015
A.
Pengertian Pendidikan
Islam
Ilmu pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan
terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati,
hingga, mengimani ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntunan untuk
menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat
beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.yang bertujuan mendidik
siswa untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak islam.dan
mendidik siswa siswi untuk mempelajari materi ajaran islam-subjek berupa
pengetahuan tentang ajaran islam.
Menurut Ramayulis, Tujuan dalam pendidikan islam adalah
arah, haluan, jurusan maksud. Atau tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh
seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kagiatan. Atau menurut
Zakiah Darajat, tujuan adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu
usaha atau kegiatan selesai[1].
Menurut Omar Muhammad
al-Toumy al-Syaibani, pendidikan adalah:
Proses mengubah tingkah
laku individu, pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara
pengarahan sebagai suatu aktifitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat[2]
Abdul
mujid dan juyuf mudzakar berpendapat, bahwa dasar pendidikan islam merupakan
landasan operasional yang dijadikan untuk merealisasikan dasar ideal/ sumber
pendidikan islam. Namun, Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A lebih cenderung
mengatakan, bahwa dasar pendidikan bukanlah landasan operasional, tetapi lebih
merupakan landasan konseptual. Karena dasar pendidikan tidak secara langsung
memberikan dasar bagi pelaksanaan pendidikan, namun lebih memberikandasar bagi
penyusunan konsep pendidikan.
a. Tujuan
Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan merupakan syarat mutlak dalam
mendefinisikan pendidikan itu sendiri yang paling tidak didasarkan atas konsep
dasar mengenai manusia, alam dan ilmu serta dengan pertimbangan prinsip-prinaip
dasarnya. Hujair AH. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan
visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya, sebenarnya pendidikan Islam
memiliki visi dan misi yang ideal, yaitu "RohmatanLil'alamin".
Mundzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan
hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau
keinginan-kainginan lainnya[3]
Menurut
Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang dikutip oleh Majid ‘Irsan al-Kaylani,t ujuan
pendidikan Islam tertumpu pada empat aspek, yaitu[4]
:
1. Tercapainya pendidikan tauhid
dengan cara mempelajari ayat Allah SWT. Dalam wahyu-Nya dan ayat-ayat fisik (afaq)
dan psikis (anfus).
2. Mengetahui ilmu Allah SWT,
melalui pemahaman terhadap kebenaran makhluk-Nya.
3. Mengetahuai kekuatan (qudrah)
Allah SWT melalui pemahaman jenis-jenis, kuantitas,dan kreativitas makhluk-Nya.
4. Mengetahui
apa yang diperbuat Allah SWT, (Sunnah Allah) tentang realitas (alam) dan
jenis-jenis perilakunya.
Dalam islam tujuan pendidikan islam sangat penting
ditetapkan dangan dasar ikhlas semata-mata karena Alla, dan dicapai secara
bertahap, mulai dari tujuan yang paling sederhana hingga tujuan yang paling
tinggi.
Dalam islam, tujuan pendidikan diarahkan pada
terbinanya seluruh bakat dan potensi manusia sesuai dengan nilai-nilai ajaran
islam, sehingga dapat melaksanakan fungsinya sebagai khilafah di muka bumi
dalam rangka pengabdiannya kepada Allah.[5]
b. Prinsip Pendidikan Islam
Prinsip pendidikan
islam adalah kebenaran yang dijadikan pokok dasar dalam merumuskan dan melaksanakan ajaran
islam. Prinsip-prinsip ini sifatnya permanen, karena merupakan ajaran, dan
karenanya tidak boleh dihilangkan atau diubah, karena ketika prinsip tersebut
dihilangkan atau diubah maka menghilangkan sifat dan karakter pendidikan islam
tersebut[6].
Mengacu kepada sumber ajaran Islam, baik
al-Qur’an, al-Hadis, sejarah, pendapat para sahabat, masalahat murshalah dan
uruf, dapat di jumpai beberapa prinsip pendidikan sebagai berikut[7]:
1.
Prinsip
Wajib Belajar dan Mengajar
Prinsip wajib belajar adalah prinsip yang
menekankan agar setiap orang dalam Islam merasa bahwa meningkatkan kemampuan
diri dalam bidang pengembangan wawasan pengetahuan, keterampilan, pengalaman,
intelektual, spiritual, dan sosial merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan.
Dengan prinsip ini, pendidikan Islam tidak menghendaki adanya orang yang bodoh,
karena orang yang bodoh bukan saja menyusahkan dirinya, melainkan menyusahkan
orang lain.
2.
Prinsip
Pendididkan Untuk Semua (education for all)
Prinsip pendidikan untuk semua adalah prinsip
yang menekankan agar dalam pendidikan tidak terdapat ketidakadilan perlakuan,
atau diskriminasi.Pendidikan harus di berikan kepada semua orang dengan tidak
membedakan karena latar belakang suku, agama, kebangsaan, status sosial, jenis
kelamin, tempat tinggal, dan lain sebagainya.
3.
Prinsip
Pendidikan Sepanjang Hayat (Long Life education)
Prinsip
pendidikan sepanjang hayat adalah prinsip yang menekankan, agar setiap orang
dapat terus belajar dan meningkatkan dirinya sepanjang hayat. Mereka harus
belajar walaupun sudah menyandang gelar kesarjanaan.
4.
Prinsip
Pendidikan Berwawasan Global Dan Terbuka
Prinsip
pendidikan berwawasan gelobal, maksudnya adalah bahwa ilmu pengetahuan yang di
pelajari bukan hanya yang terdapat di dalam negeri sendiri, melainkan juga ilmu
yang ada di negeri prang lain, namun sangat di perlukan untuk negeri sendiri.
Selain itu, pendidikan berwawasan gelobal, menekankan bahwa pendidikan yang
dilakukan di tujukan untuk kepentingan seluruh umat manusia di dunia, dan di
juga menggunakan standar yang berlaku di seluruh dunia.
5.
Prinsip
Pendidikan Integralistik Dan Seimbang
Prinsip
pendidikan integralistik adalah prinsip yang memadukan antara pendidiakn ilmu
agama dan pendidiakn umum, karena sebagaimana telah di uraikan di atas, bahwa
ilmu agama dan umum baik secara ontologis (sumbernya) epistimolgi (metodenya),
maupun aksiologis ( manfaatnya) sama-sama berasal dari Allah subhanahuwata’ala.
6.
Prinsip
Pendidikan Yang Sesuai Dengan Bakat Manusia Prinsip Pendidikan Yang
Menyenangkan Dan Menggembirakan
Prinsip
pendidiakn yang sesuai dengan bakatmanusia adalah prinsip yang berkaitan dengan
merencanakna program atau memberikan pengajaran yang sesuai denan bakat, minat,
hobi dan kecendrungan manusia sesuai dengan tingkat perkembangan usianya.
7.
Prinsip
Pendidikan Yang Berbasisi Pada Riset Dan Rencana
Prinsip
pendidiakn yang menyenangkan ialah prinsip pendidiakn yang berkaitan dengan
pemberian pelayanan yang manusiawi, yaitu pelayanan yang sesuai dengan
kebutuhan manusia, selalu memberikan jalan keluar dan pemecahan masalah,
memuaskan mencerahkan, menggembirakan, dan menggairahkan.
8.
Prinsip
Pendidikan Yang Berbasis Pada Riset Dan Rencana
Prinsip
pendidikan yang berbasis pada riset maksudnya adalah pendidikan yang
dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan hasil penelitian dan kajian yang
mendalam, dan bukan berdasarkan dugaan / asal-asalan. Adapun prinsip pendidikan
yang direncanakan adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan perencanaan
yang matang yang di topang oleh hasil kajian dan penelitian yang mendalam
9.
Prinsip
Pendidikan Yang Unggul Dan Profesional
Prinsip
pendidikan yang unggul dan profesional adalah prinsip yang melihat bahwa tugas
mendidik adalah amanah yang tidak bisa di serahkan pada sembarang orang.
c. Membangun Kualitas Pendidikan Islam
Di dalam membangun
kualitas pendidikan islam yang benar-benar teruji, disamping dibutuhkan
semangat yang tinggi dan usaha yang berlipat, juga harus di tempuh cara
strategis. Salah satu cara yang ditempuh oleh berbagai lembaga
pendidikan yang maju adalah dengan menerapkan penjaminan mutu. Abdul Hadis dan
Nurhayati B, menegaskan, aktivitas penjaminan mutu dan kontrol mutu pendidikan
merupakan mesin generator pelaksanaan menajemen mutu terpadu dalam dunia
pendidikan[8].
Penjaminan mutu dan
kontrol mutu sebagai kegiatan yang menggerakkan penerapan mutu pada
masing-masing elemen dan masing-masing kegiatan yang dilksanakan lembaga
pendidikan. Melalui penjaminan mutu dan kontrol mutu, penetapan kriteria mutu
dan pelaksanaannya dimulai dari tahapan paling awal ketika terjadi penilihan
pimpinan (kepala sekolah ketua dan dekan), rekruitmen pendidik (guru/ustadz)
rekrutmen tenaga kependidikan dan penerimaan peserta didik baru.
Kemudian kriteria dan
pelaksanaan mutu dilaksanakan pada proses pendidikan dan proses pembelajaran
mulai dari persiapan mengajar seperti pembuatan silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), model pembelajaran, alat pengajaran dan sebagainnya. Pada
akhirnya kriteria dan pelaksanaan mutu itu juga dikenal pada sistem evaluasi
pendidikan dan evaluasi pembelajaran.
Langkah yang paling
penting adalah tahapan aplikasi. Artinya pembentukan dan penguatan kualitas
atau mutu pendidikan islam itu benar-benar diusahakan secara serius dan
maksimal, bukan sekedar legal formal.
Pada bagian lain,
kualitas pendidikan islam itu tidak hanya diukur dari peserta didik, tetapi
juga diukur dari parameter lainnya yang lebih kompleks. Dari segi alur
pendidikan, kualitas pendidikan islam itu dapat diukur dari keadaan perencanaan,
proses, evaluasi, hasil belajar, dankondisi alumni.
Dari segi pelaku
pendidikan, kualitas itu dapat diukur dari kualitas pimpinan, pendidik, tenaga
kependidikan, dan peserta didik. Dari segi sarana dan prasarana, kualitas itu
dapat diukur dari kelengkapan gedung dan kelengkapan lainnya. Oleh karena itu,
terwujudnya kualitas pendidikan islam harus diimplementasikan dengan melakukan
peningkatan penataan berbagai komponen pendidikan yang terkait[9].
d. Meningkatkan Kualitas Pendidikan Islam
Untuk mencapai kualitas
pendidikan islam yang memiliki kekuatan dan bahkan kelebihan pada bagian lini,
dibutuhkan upaya peningkatan penglolaan berbagai komponennya, dan kalau
memungkinkan seluruh komponen yang berjumlah banyak sekali.
Untuk memberi penguatan
pada sistem pembelajaran yang kondusif diperlukan usaha memperkokoh jantung
pendidikan islam, yaitu pendidik (guru, ustadz), perpustakaan dan laboraterium.
Ketigannya merupakan sumber belajar yang paling kuat dalam memfasilitasi
pembentukan kepribadian peserta didik[10].
B. Konsep Peningkatan Pendidikan Islam untuk Masa Depan
1. Kurikulum Pendidikan Dasar Islam
a.
Pengertian
Kurikulum
Perkataan kurikulum
telah dikenal dalam dunia pendidikan dan merupakan istilah yang tidak asing
lagi. Secara epimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir
yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Jadi,
istilah kurikulum berasal dan dunia olah rauga pada zaman Romawi Kuno yang
mengandung pengetian suatu jarak yang
harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish[11].
b. Pengertian
Kurikulum Menurut Islam
Di dalam ajaran Islam,
baik Al-quran, al-Sunah maupun pendapat para pakar pendidikan Islam tidak
dijumpai pengertian kurikulum sebagaimana yang dikembangkan oleh para pakar
pendidikan modern. Kurikulum dalam pandangan Islam lebih diartikan sebagai
susunan mata pelajaran yang harus diajarkan kepada peserta didik. Dengan kata
lain, bahwa pengertian kurikulum dalam Islam lebih bersifat tradisional. Yaitu:
1. Sebagai
program studi yang harus dipelajari.
2. Sebagai
konten, yaitu data atau informasi yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa
dilengkapi dengan data atau informasi lain memungkinkan timbulnya kegiatan
belajar.
3. Sebagai
kegiatan terencana, yakni kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan
diajarkan
4. Sebagai
hasil belajar, yaitu seperangkat tujuan yang untuk memperoleh suatu hasil
tertentu tanpa menspesifikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil itu.
5. Sebagai
reproduksi kultural, yaitu transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan
masyarakat, agar dimiliki dan dipahami anak-anak generasi muda masyarakat
tersebut.
6. Sebagai
produksi, yaitu seperangkat tugasyang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang
ditetapkan terlebih dahulu[12].
c. Ciri-ciri
dan prinsip-prinsip Kurikulum Pendidikan Dasar Islam
Menurut Omar Mohammad
al-Toumy al-Syaibani, bahwa kurikulum pendidikan dasar Islam memiliki ciri-ciri
sebagai berikut.
1. Menonjolkan
tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuannya.
2. Meluaskan
cakupannnya dan menyeluruh kandungannya, yaitu kurikulum yang benar-benar
mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran yang menyeluruh. Di samping itu, ia
juga luas perhatiannya.
3. Bersikap
seimbang di antara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan
digunakan.
4. Bersifat
menyeluluh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
Selain memiliki
ciri-ciri sebagaimana tersebut di atas, kurikulum pendidikan Islam juga harus
memiliki tujuh prinsip sebagai berikut:
1. Prinsip
pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilai-nilai luhur
yang berkembang di masyarakat yang sesuai dengan agama.
2. Prinsip
menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandunagan kurikulum,
yakni mencakup tujuan pembinaan akidah, akal, dan jasmaninya, dan hallain yang
bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangn spritual, kebudaaan, sosial,
ekonomi da sebagainya.
3. Prinsip
keseimbangan yang relatif sama antara tujuan-tujuan dan kandunagan kurikulum.
4. Prinsip
keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan pelajar.
5. Prinsip
pemeliharaan perbedaan-perbedaan indivual di antara para pelajar, baik dari
segi minatmaupun bakatnya.
6. Prinsip
keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan
aktivitas yang terkandung dalam kurikulum[14]
Untuk lebih melengkapi
prinsip-prinsip di atas, ada baiknya dilihat prinsip-prinsip kurikulum yang
ditawarkan oleh Zakiah Daradjat, yaitu sebagai berikut:
1. Prinsip
relevansi dalam arti kesesuaian pendidikan dalam lingkungan hidup peserta
didik, relevansi dengan kehidupan masa sekarang dan akan datang, relevansi denagn
tuntutan pekerjaan.
2. Prinsip
efektifitas, baik efektifitas mengajar peserta didik, ataupun efektifitas
belajar peserta didik.
3. Prinsip
efisiensi, baik dalam segi waktu, tenaga, dan biaya.
d. Materi
Kurikulum Pendidikan Dasar Islam dan pendekatan dalam proses pembelajaran
Materi kurikulum
pendidikan dasar Islam dapat dibagi dua bagian.
1. Materi
kurikulum potensial dan formal yang terdiri dari:
a. Praktik
keimanan;
b. Praktik
keibadahan;
c. Praktik
keakhlakan;
d. Praktik
keteampilan melakukan pekerjaan sehari-hari;
e. Keterampilan
membaca, menulis, dan berhitung secara sederhana.
2. Materi
kurikulum yang bersifat aktual (hiden curriculum), mewujudkan
atmosfer lingkungan yang bernuansa agamis dengan melaksanakan tradisi islam
sebagaimana tersebut di atas[16].
Adapun pendekatan
dalam proses pembelajarannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1. Menggunakan
pendekatan tematik;
2. Menggunakan
pendekatan rekreatif;
3. Menggunakan
pendekatan pakem; dan
4.
Menggunakan
pendekatan pola asuh antara ibu atau bapak dan anak. Ibid., hlm.
132.
2. Guru Profesional Dalam Islam
Di tengah-tengah terjadinya disorientasi peran dan fungsi guru sebagai
akibat dari pengaruh globalisasi yang berbasih pada logika ekonomi kapitalis
dan iberalis yang bercocok pragmatis, materialistik, hedonistik dan
sekularistik, maka kedepan peran guru dan fungsi guru diarahkan kepada
terwujudnya peran sebagai Ulul al-bab, al-ulama, al-muzakki, ahl al-dzikr, dan
fi al-‘ilm dengan penjelasan secara singkat sebagai berikut.
a. Konsep Guru dalam Al-Qur’an
1. Ulul al-Bab
Guru sebagai ulul al-bab adalah
orang yang memiliki keseimbangan antara daya fikr dan dzikr, daya nalar dan
spiritual. Dengan daya ini, maka seorang guru yang ulul al-bab akan elakukan
fungsi amal ma’ruf nahi munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah yang
munkar). Dengan fungsi yang demikian, ia akan mengemban misi sebagai
pembangunan masa depan peradaban bangsa sebagaimana yang dilakukan para ulama dan
ilmuwan di zaman klasik. Visi dan misi ulul al-bab ini sejalan dengan
pelaksanaan kompetensi sosial yang di isyaratkan sebagai guru profesional.
2. Al-Ulama
Seorang guru sebagai al-ulama
adalah orang yang mendalami ilmunya melalui kegiatan penelitian terhadap dunia
fauna, flora, ruang angkasa, geologi, fisika dan sebagainya yang disertai
dengan naluri intuisi dan fitrah batinnya untuk menyadari bahwa alam jagat raya
yang dijadikan objek penelitiannya itu adalah bagian dari ciptaan dan tanda
kekuasaan Allah. Kesadaran guru sebagai al-ulama ini, akan mengantarkan dirinya
memiliki rasa takut menggunakan berbagai teori tersebut untuk tujuan-tujuan
yang bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Fungsi keulamaan guru yang
demikian itu sejalan dengan kompetensi akademik yang menjadi syarat bagi
seorang guru profesional.
3. Al-Muzakki
Fungsi guru sebagai al-muzakki
adalah orang yang memiliki mental dan karakter yang mulia. Sebagai al-muzakki,
ia akan membersihkan dirinya dan anak didiknya dari pengaruh negatif yang merusak akhlak, serta akan menjauhkan
dirinya dari berbuat dosa dan maksiat. Fungsi ini sejalan dengan kompetensi
kepribadian bagi seorang guru profesional.
4. Ahl-al-dzikr
Guru sebagai ahl-al-dzikr adalah
orang yang menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki peran sebagai expert
judgement, yakni keahlian yang diakui kepakarannya, sehingga ia pantas menjadi
tempat bertanya, menjadi rujukan dan memiliki otoritas untuk memberikan
penilaian dan pengakuan (recognize) atau berbagai temuan ilmiah, serta berbagai
prilaku yang dilakukan anak muridnya. Sebagai ahl-al-dzikr, seorang guru
memiliki pengalaman yang luas, kemampuan menganalisis dengan menggunakan
kaidah-kaidah ilmiah yang dibenarkan oleh komunitas ilmiah.
5. Al-Rasikhuna fi al-‘ilm.
Sebagai al-rasikhuna fi al-‘ilm
adalah mereka yang memiliki kemampuan bukan hanya pada dataran fakta dan data,
serta seorang guru tidak hanya dapat memahami sesuatu yang bersifat empiris dan
eksplisit, melainkan juga menangkap pesan ajaran, spirit, jiwa, hakikat,
substansi, inti, dan esensi dari segala sesuatu yang dilihat dan diamatinya.
Dengan cara demikian, ia akan mampu mengarahkan murid atau pengikutnya untuk
tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat simbolik, ritualistik dan formalistik
tanpa makna[17].
b.
Syarat-Syarat Guru Profesional
Dalam Islam
Menurut Sulani, Agar tujuan
pendidikan tercapai, seorang guru harus memiliki syarat-syarat pokok. Syarat
pokok yang dimaksud adalah:
1. Syarat Syahsiyah (memiliki
kepribadian yang diandalkan).
2. Syarat lmiah (memiliki
pengetahuan yang mumpuni).
3. Syarat Idofiyah (mengetahui,
mengahayati, dan menyelami manusia yang dihadapinya, sehingga dapat menyatukan
dirinya untuk membawa anak didik menuju tujuan yang ditetapkan).
Guru dalam Islam sebagai pemegang jabatan
professional membawa misi ganda dalam waktu yang bersamaan, yaitu misi agama
dan misi ilmu pengetahuan. Misi agama menuntut guru untuk menyampaikan
nilai-nilai ajaran agama kepada murid, sehingga murid dapat menjalankan kehidupan
sesuai dengan norma-norma agama tersebut. Misi ilmu pengetahuan menuntut guru
menyampaikan ilmu sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurut Ghofir (Muhammad Nurdin, 2004 158) Untuk
mewujudkan misi ini, guru harus seperangkat kemampuan, sikap, dan keterampilan
sebagai berikut :
1. Landasan moral yang kokoh untuk
melakukan jihad dan mengemban amanah
2. Kemampuan mengembangkan jaringan
kerjasama/silaturahmi
3. Membentuk team work yang kompak
4. Mencintai kualitas yang tinggi.
Dari hasil analisis terhadap sejumlah literature,
secara umum syarat profesionalisme guru dalam pandangan Islam adalah :
1. Bertaqwa
2. Berilmu
Pengetahuan Luas
3. Berlaku
Adil
4. Berwibawa
5. Ikhlas
6. Mempunyai
Tujuan yang Rabbani
7. Mampu
Merencanakan dan Melaksanakan Evaluasi Pendidikan
8. Menguasai
Bidang yang Ditekuni
c.
Isyarat Al-Qur’an
Tentang Profesionalisme Guru
Di dalam al-Qur’an surat an-Nisa: 58, Allah Swt. menyatakan: “Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,
dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya
kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran
yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.
Dari ayat 58 surat an-Nisa beserta penjelasan tentang asbab nuzulnya sebagaimana tersebut di atas, terdapat beberapa
catatan penting
dalam hubungannya
dengan profesionalisme sebagai berikut.
1. Seorang tenaga yang profesional adalah seoarang
yang bersifat al-amin (terpercaya), al-hafidz (dapat menjaga amanah)dan al-
wafiyah (yang merawat sesuatau yang baik).
2. seorang tenaga pendidik profesional dalam pandangan Islam adalah seorang pendidik yang memiliki keahlian
3. seorang pendidik yang
profesional dalam pandangan Islam adalah seorang yang bertindak adil, yakni memberikan hak
kepada yang memilikinya dengan cara yang
paling efektif atau tidak berbelit-belit[18]
d. Langkah-Langkah Mencetak Guru Profesinal
Pembinaan guru yang profesional di zaman Orde Lama
dan Orde Baru misalnya, tampak lebih baik dari pada masa sekarang. Hal ini
dapat di tunjukkan dengan beberapa catatan sebagai berikut :
1. Dimasa orla dan orba, setiap
orang yang ingin menjadi guru harus lulusan pendidikan keguruan. Untuk menjadi
guru SD ada sekolah pendidikan guru
(SPG), ada pula program D-II PGSD, D-III
PGSM. Selanjutnya
untuk menjadi guru MI ada pendidikan Guru Agama 4 tahun, Guru SMP 6 tahun
2. Guna memperoleh kompetensi
akademi dan pedagogik yang matang, seharusnya dalam pembinaan tenaga guru
dilakukan melalui pendekatan kolaboratif antara fakultas-fakultas non keguruan
dengan fakultas keguruan.
3. Bahwa tenaga pengajar pada
pendidikan profesi sebaiknya kaum profesional yang selain memiliki keahlian,
kemahiran dan kecakapan, juga memiliki pengalaman praktis dibidangnya.
4. Bahwa pendidikan calon guru
profesional seharusnya dilakukan melalui sistem guru berjenjang dan berantai[19]
3.
Akhlak Mulia untuk
Pendidikan Islam
Sejarah mencatat, bahwa
Nabi Muhammad Saw tercatat sebagai Nabi yang berhasil membentuk akhlak mulia.
Diantara faktor yang menyebabkan keberhasilan Nabi Muhammad saw dalam bentuk
akhlak mulia tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut ;
1.
Mengubah pola pikir
umat manusia yang bertumpu pada keharusan mempercayai dan mengikuti perintah
Allah dalam arti yang seluas-luasnya.
2. Memberikan contoh konkret, mempraktekkan dan
membiasakan mengikuti perintah Allah sersebut dalam hubungan-Nya dengan berbuat
baik kepada sesama manusia, dan dengan alam jagat raya.
3. Melakukan proses seleksi, akomodasi dan reintegrasi
dengan nilai-nilai dan adat istiadat (‘uruf) yang sesuai dan relevan.
4. Melakukan perubahan,
modifikasi, difusi, pembatalan dan penghapusan terhadap akhlak masa
lalu yang tidak baik dengan cara
evolutif.
5. Berpijak pada
konsep fitrah manusia sebagai makhluk
yang mencintai kebaik an (etika), keindahan (estetika), dan kebenaran (logika).
6. Memberikan
reward dan funishment
secara bijaksana terhadap setiap
orang yang melakukan pelanggaran terhadap
ajaran Tuhan[20]
C. Peningktan Pendidikan Islam Masa Depan
a. Model Pendidikan Islam
Pendidikan islam yang
bertugas pokok menggali, menganalisis, dan mengembangkan serta mengamalkan
ajaran islam yang bersumberkan Al-Qur’am dan Hadist, cukup memperoleh bimbingan
dan arahan dari kandungan mankna yang terungkap dari kedua sumber tuntutan
tersebut. Makna yang komprehensif dari sumber tersebut
menjangkau dan melingkupi segala aspek kehidupan manusia modern[21]
Menurut al-Ghazali, secara
potensial pengetahuan itu telah eksis dalam jiwa manusia bagaikan benih yang
ada di dalam tanah. Ia memandang bahwa sistem perkembangan kemampuan
rasionalitas itu berdasarkan pola keseimbangan dengan kekuasaan Tuhan dan
keseimbangan penalaran dengan pengalaman mistik yang memberikan ruang bagi
bekerjanya rasio, serta keseimbangan antara berpikir edukatif dengan pengalaman
empiris manusia.
Lebih
lanjut Muhammad Abduh lebih mengedepankan kemampuan rasional dalam proses
pemahaman ajaran Islam melalui pendidikan. Ia memandang bahwa peranan sistem
pendidikan besar sekali bagi proses modernisasi kehidupan umat Islam.
Pendidikan harus didasari dengan moral dan agama. Pendidikan agama
diintegrasikan ke dalam ilmu pendidikan agama. Pendidikan dipandang sebagai
alat yang paling efektif untuk mengadakan pembaruan atau perubahan.
Dengan memperhatikan potensi psikologis dan pedagogis manusia
anugerah Allah, model pendidikan Islam seharusnya berorientasi kepada pandangan
falsafah sebagai berikut.
1. Filosofis, memandang manusia didik
adalah hamba Tuhan yang diberi kemampuan fitrah, dinamis, dan sosial-religius
serta yang psiko-fisik.
2. Etimologis, potensi berilmu pengetahuan
yang berpijak pada iman dan berilmu pengetahuan untuk menegakkan iman yang
bertauhid, yang basyariyah dharuriah, manjadi shibghah manusia
muslim sejati berderajat mulia.
3. Pedagogis, manusia adalah makhluk
belajar sejak dari ayunan sampai liang lahat yang proses perkembangannya
didasari nilai-nilai islami yang dialogis terhadap tuntutan Tuhan dan tuntutan
perubahan sosial, lebih cenderung kepada pola hidup yang harmonis antara kepentingan
duniawi dan ukhrawi, serta kemampuan belajarnya disemangati oleh misi
kekhalifahan di muka bumi[22].
b. Perencanaan Program
Pendidikan Islam
Dalam
merencanakan program ini perlu kita mengidentifikasi delapan masalah pokok.
a. Apakah ajaran islam memberikan ruang lingkup untuk berfikir kreatif manusia
dan sejauh mana ruang ingkup tersebut diberikan kepada manusia.
b. Potensi psikologi apa sajakah yang menjadi sasaran pendidikan islam
terutama dalam kaitannya dengan kreatifitas yang berhubungan dengan pengembangan
iptek
c. Bagaimanakah system dan metode pendidikan yang tepat gun dalam proses
kependidikan islam yang kontekstual dengan iptek.
d. Keterampilan apa sajakah yang diperlukan anak didik dalam mengelola dan
memanfaatkan iptek modern
e. Sampai berapa jauh anak didik diharapkan mampu mengendalikan dan menangkal
dampak negative dari iptek terhadap nilai etika keagamaan islam dan nilai moral
dalam kehidupan individu dan sosial
f. Sebaiknya, apakah nilai moral dan sosial keagamaan mampu memberikan dampak
positif terhadap kemajuan iptek tersebut
g. Kompetensi guru agama yang dapat diandalkan untuk mnghadapi modernitas
uamat berkat kemajuan iptek tersebut.
h. Gagasan baru apa sajakah yang harus dirumuskan kembali dalam dalam
perencanaan pendidikan jangka panjang dan pendek.yang berkaitan dengan
pengembangan kurikulum nasional pada sekolah umum atau PTU. Serta yang terkait
dengan pendidikan pada perguruan agama islam dalam semua jenjang[23].
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana
Abuddin Nata. 2012. Kapita
Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hamdan Ihsan
dan Fuad Ihsan. 2007.
Filsafat Pendidikan Islam, Cet. Ke 3.Bandung : CV. Pustaka
Setia.
Majid
‘Irsan al-Kaylani, 1986. al-Fikr
al-Tarbawi ‘inda Ibn Taymiyah, al-Madinah al-Munawarah: Maktabah Dar
al-Tarats,
Muajmil Qomar, 2013, Strategi
Pendidikan Islam. Jakarta:Erlangga.
Ramayulis. 1994. Ilmu
Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Ramayulis. 2006, Ilmu
Pendidikan Islam, Cet. Ke 5, Jakarta: Kalam Mulia
Ramayulis
dan Samsul Nizar. 2010. Filasafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan
dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta: Kalam Mulia.
[1]
Ramayulis. 2006, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. Ke 5, Jakarta: Kalam Mulia.
Hal 133
[2]
Abuddin Nata, 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana. Hal 28
[3]
Ihsan dan Fuad. 2007, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. Ke 3.
Bandung:Pustaka Setia. Hal. 68
[4]
Majid ‘Irsan al-Kaylani, 1986. al-Fikr
al-Tarbawi ‘inda Ibn Taymiyah, al-Madinah al-Munawarah: Maktabah Dar
al-Tarats, hlm. 117-118.
[5]
Abuddin Nata, Op.Cit. hal 70
[6] Ibid,
hal 102
[7] Ibid
[8]
Qomar, 2013, Strategi Pendidikan Islam. Jakarta:Erlangga. Hal 126
[9] Ibid,
hal 125-128
[10] Ibid,
143
[11] Ramayulis, Nizar. 2010. Filasafat Pendidikan Islam: Telaah
Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, Jakarta: Kalam Mulia. hlm. 192.
[12]
Abuddin Nata. 2012. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, hlm. 123.
[13]
Abuddin Nata, op. cit., hlm. 127
[14] Ibid.,
hlm. 127-128.
[15]
Ramayulis, Nizar, op. cit., hlm. 197
[16]
Abuddin Nata, op. cit., hlm. 131-132
[17]
Abuddin Nata. 2012, Kapita Selekta
Pendidikan Islam: Isu-isu Kontemporer tentang Pendidikan Islam, Cet: 1.
Jakarta: Rajawali Pers, , Hal: 302-306
[18] Abuddin
Nata, Op.Cit. Hal 220-224
[19] Ibid,
hal 228
[20] Ibid,
Hak 212
[21]
Arifin. 2009. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Pt Bumu Aksara.
Hal 24
[22]
Arifin, Op. Cit 31-32
[23] Ibid.
47-48

Tidak ada komentar:
Posting Komentar