Rabu, 17 Juni 2015

TUGAS UAS



MAKALAH
KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Islam Sebagai Pendidikan Islam Masa Depan
  






  


Disusun Oleh :
         Fajar Kurniawan   (1219250006)

Dosen pengasuh :
Desi Firmala Sari, M.Pd.I



FAKULTAS AGAMA ISLAM
PROGRAM STUDI TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU
2015

A.    Pengertian Pendidikan Islam
Ilmu pendidikan agama islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga, mengimani ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.yang bertujuan mendidik siswa untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak islam.dan mendidik siswa siswi untuk mempelajari materi ajaran islam-subjek berupa pengetahuan tentang ajaran islam.
Menurut Ramayulis, Tujuan dalam pendidikan islam adalah arah, haluan, jurusan maksud. Atau tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu kagiatan. Atau menurut Zakiah Darajat, tujuan adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai[1].
Menurut Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, pendidikan adalah:
Proses mengubah tingkah laku individu, pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengarahan sebagai suatu aktifitas asasi dan sebagai profesi di antara  profesi-profesi asasi dalam masyarakat[2]
Abdul mujid dan juyuf mudzakar berpendapat, bahwa dasar pendidikan islam merupakan landasan operasional yang dijadikan untuk merealisasikan dasar ideal/ sumber pendidikan islam. Namun, Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A lebih cenderung mengatakan, bahwa dasar pendidikan bukanlah landasan operasional, tetapi lebih merupakan landasan konseptual. Karena dasar pendidikan tidak secara langsung memberikan dasar bagi pelaksanaan pendidikan, namun lebih memberikandasar bagi penyusunan konsep pendidikan.
a.  Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan merupakan syarat mutlak dalam mendefinisikan pendidikan itu sendiri yang paling tidak didasarkan atas konsep dasar mengenai manusia, alam dan ilmu serta dengan pertimbangan prinsip-prinaip dasarnya. Hujair AH. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya, sebenarnya pendidikan Islam memiliki visi dan misi yang ideal, yaitu "RohmatanLil'alamin". Mundzir Hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau keinginan-kainginan lainnya[3]

Menurut Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang dikutip oleh Majid ‘Irsan al-Kaylani,t ujuan pendidikan Islam tertumpu pada empat aspek, yaitu[4] :
1.    Tercapainya pendidikan tauhid dengan cara mempelajari ayat Allah SWT. Dalam wahyu-Nya dan ayat-ayat fisik (afaq) dan psikis (anfus).
2.    Mengetahui ilmu Allah SWT, melalui pemahaman terhadap kebenaran makhluk-Nya.
3.    Mengetahuai kekuatan (qudrah) Allah SWT melalui pemahaman jenis-jenis, kuantitas,dan kreativitas makhluk-Nya.
4.    Mengetahui apa yang diperbuat Allah SWT, (Sunnah Allah) tentang realitas (alam) dan jenis-jenis perilakunya.
Dalam islam tujuan pendidikan islam sangat penting ditetapkan dangan dasar ikhlas semata-mata karena Alla, dan dicapai secara bertahap, mulai dari tujuan yang paling sederhana hingga tujuan yang paling tinggi.
Dalam islam, tujuan pendidikan diarahkan pada terbinanya seluruh bakat dan potensi manusia sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam, sehingga dapat melaksanakan fungsinya sebagai khilafah di muka bumi dalam rangka pengabdiannya kepada Allah.[5]

b.  Prinsip Pendidikan Islam
Prinsip pendidikan islam adalah kebenaran yang dijadikan pokok dasar dalam merumuskan dan melaksanakan ajaran islam. Prinsip-prinsip ini sifatnya permanen, karena merupakan ajaran, dan karenanya tidak boleh dihilangkan atau diubah, karena ketika prinsip tersebut dihilangkan atau diubah maka menghilangkan sifat dan karakter pendidikan islam tersebut[6].    
Mengacu kepada sumber ajaran Islam, baik al-Qur’an, al-Hadis, sejarah, pendapat para sahabat, masalahat murshalah dan uruf, dapat di jumpai beberapa prinsip pendidikan sebagai berikut[7]:
1.      Prinsip Wajib Belajar dan Mengajar
Prinsip wajib belajar adalah prinsip yang menekankan agar setiap orang dalam Islam merasa bahwa meningkatkan kemampuan diri dalam bidang pengembangan wawasan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, intelektual, spiritual, dan sosial merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Dengan prinsip ini, pendidikan Islam tidak menghendaki adanya orang yang bodoh, karena orang yang bodoh bukan saja menyusahkan dirinya, melainkan menyusahkan orang lain.
2.      Prinsip Pendididkan Untuk Semua (education for all)
Prinsip pendidikan untuk semua adalah prinsip yang menekankan agar dalam pendidikan tidak terdapat ketidakadilan perlakuan, atau diskriminasi.Pendidikan harus di berikan kepada semua orang dengan tidak membedakan karena latar belakang suku, agama, kebangsaan, status sosial, jenis kelamin, tempat tinggal, dan lain sebagainya.
3.      Prinsip Pendidikan Sepanjang Hayat (Long Life education)
Prinsip pendidikan sepanjang hayat adalah prinsip yang menekankan, agar setiap orang dapat terus belajar dan meningkatkan dirinya sepanjang hayat. Mereka harus belajar walaupun sudah menyandang gelar kesarjanaan.
4.      Prinsip Pendidikan Berwawasan Global Dan Terbuka 
Prinsip pendidikan berwawasan gelobal, maksudnya adalah bahwa ilmu pengetahuan yang di pelajari bukan hanya yang terdapat di dalam negeri sendiri, melainkan juga ilmu yang ada di negeri prang lain, namun sangat di perlukan untuk negeri sendiri. Selain itu, pendidikan berwawasan gelobal, menekankan bahwa pendidikan yang dilakukan di tujukan untuk kepentingan seluruh umat manusia di dunia, dan di juga menggunakan standar yang berlaku di seluruh dunia.
5.      Prinsip Pendidikan Integralistik Dan Seimbang
Prinsip pendidikan integralistik adalah prinsip yang memadukan antara pendidiakn ilmu agama dan pendidiakn umum, karena sebagaimana telah di uraikan di atas, bahwa ilmu agama dan umum baik secara ontologis (sumbernya) epistimolgi (metodenya), maupun aksiologis ( manfaatnya) sama-sama berasal dari Allah subhanahuwata’ala.
6.      Prinsip Pendidikan Yang Sesuai Dengan Bakat Manusia Prinsip Pendidikan Yang Menyenangkan Dan Menggembirakan
Prinsip pendidiakn yang sesuai dengan bakatmanusia adalah prinsip yang berkaitan dengan merencanakna program atau memberikan pengajaran yang sesuai denan bakat, minat, hobi dan kecendrungan manusia sesuai dengan tingkat perkembangan usianya.
7.      Prinsip Pendidikan Yang Berbasisi Pada Riset Dan Rencana
Prinsip pendidiakn yang menyenangkan ialah prinsip pendidiakn yang berkaitan dengan pemberian pelayanan yang manusiawi, yaitu pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan manusia, selalu memberikan jalan keluar dan pemecahan masalah, memuaskan mencerahkan, menggembirakan, dan menggairahkan.
8.      Prinsip Pendidikan Yang Berbasis Pada Riset Dan Rencana
Prinsip pendidikan yang berbasis pada riset maksudnya adalah pendidikan yang dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan hasil penelitian dan kajian yang mendalam, dan bukan berdasarkan dugaan / asal-asalan. Adapun prinsip pendidikan yang direncanakan adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan perencanaan yang matang yang di topang oleh hasil kajian dan penelitian yang mendalam 
9.      Prinsip Pendidikan Yang Unggul Dan Profesional
Prinsip pendidikan yang unggul dan profesional adalah prinsip yang melihat bahwa tugas mendidik adalah amanah yang tidak bisa di serahkan pada sembarang orang.
c.     Membangun Kualitas Pendidikan Islam
Di dalam membangun kualitas pendidikan islam yang benar-benar teruji, disamping dibutuhkan semangat yang tinggi dan usaha yang berlipat, juga harus di tempuh cara strategis. Salah satu cara yang ditempuh oleh berbagai lembaga pendidikan yang maju adalah dengan menerapkan penjaminan mutu. Abdul Hadis dan Nurhayati B, menegaskan, aktivitas penjaminan mutu dan kontrol mutu pendidikan merupakan mesin generator pelaksanaan menajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan[8].  
Penjaminan mutu dan kontrol mutu sebagai kegiatan yang menggerakkan penerapan mutu pada masing-masing elemen dan masing-masing kegiatan yang dilksanakan lembaga pendidikan. Melalui penjaminan mutu dan kontrol mutu, penetapan kriteria mutu dan pelaksanaannya dimulai dari tahapan paling awal ketika terjadi penilihan pimpinan (kepala sekolah ketua dan dekan), rekruitmen pendidik (guru/ustadz) rekrutmen tenaga kependidikan dan penerimaan peserta didik baru.
Kemudian kriteria dan pelaksanaan mutu dilaksanakan pada proses pendidikan dan proses pembelajaran mulai dari persiapan mengajar seperti pembuatan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), model pembelajaran, alat pengajaran dan sebagainnya. Pada akhirnya kriteria dan pelaksanaan mutu itu juga dikenal pada sistem evaluasi pendidikan dan evaluasi pembelajaran.
Langkah yang paling penting adalah tahapan aplikasi. Artinya pembentukan dan penguatan kualitas atau mutu pendidikan islam itu benar-benar diusahakan secara serius dan maksimal, bukan sekedar legal formal.
Pada bagian lain, kualitas pendidikan islam itu tidak hanya diukur dari peserta didik, tetapi juga diukur dari parameter lainnya yang lebih kompleks. Dari segi alur pendidikan, kualitas pendidikan islam itu dapat diukur dari keadaan perencanaan, proses, evaluasi, hasil belajar, dankondisi alumni.
Dari segi pelaku pendidikan, kualitas itu dapat diukur dari kualitas pimpinan, pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Dari segi sarana dan prasarana, kualitas itu dapat diukur dari kelengkapan gedung dan kelengkapan lainnya. Oleh karena itu, terwujudnya kualitas pendidikan islam harus diimplementasikan dengan melakukan peningkatan penataan berbagai komponen pendidikan yang terkait[9].

d.  Meningkatkan Kualitas Pendidikan Islam
Untuk mencapai kualitas pendidikan islam yang memiliki kekuatan dan bahkan kelebihan pada bagian lini, dibutuhkan upaya peningkatan penglolaan berbagai komponennya, dan kalau memungkinkan seluruh komponen yang berjumlah banyak sekali.
Untuk memberi penguatan pada sistem pembelajaran yang kondusif diperlukan usaha memperkokoh jantung pendidikan islam, yaitu pendidik (guru, ustadz), perpustakaan dan laboraterium. Ketigannya merupakan sumber belajar yang paling kuat dalam memfasilitasi pembentukan kepribadian peserta didik[10].

B.    Konsep Peningkatan Pendidikan Islam untuk Masa Depan

1.    Kurikulum Pendidikan Dasar Islam
a.  Pengertian Kurikulum
Perkataan kurikulum telah dikenal dalam dunia pendidikan dan merupakan istilah yang tidak asing lagi. Secara epimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Jadi, istilah kurikulum berasal dan dunia olah rauga pada zaman Romawi Kuno yang mengandung pengetian suatu jarak  yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish[11].

b.   Pengertian Kurikulum Menurut Islam
Di dalam ajaran Islam, baik Al-quran, al-Sunah maupun pendapat para pakar pendidikan Islam tidak dijumpai pengertian kurikulum sebagaimana yang dikembangkan oleh para pakar pendidikan modern. Kurikulum dalam pandangan Islam lebih diartikan sebagai susunan mata pelajaran yang harus diajarkan kepada peserta didik. Dengan kata lain, bahwa pengertian kurikulum dalam Islam lebih bersifat tradisional. Yaitu:
1.   Sebagai program studi yang harus dipelajari.
2.   Sebagai konten, yaitu data atau informasi yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa dilengkapi dengan data atau informasi lain memungkinkan timbulnya kegiatan belajar.
3.   Sebagai kegiatan terencana, yakni kegiatan yang direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan
4.   Sebagai hasil belajar, yaitu seperangkat tujuan yang untuk memperoleh suatu hasil tertentu tanpa menspesifikan cara-cara yang dituju untuk memperoleh hasil itu.
5.   Sebagai reproduksi kultural, yaitu transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan dipahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut.
6.   Sebagai produksi, yaitu seperangkat tugasyang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu[12].

c.   Ciri-ciri dan prinsip-prinsip Kurikulum Pendidikan Dasar Islam
Menurut Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani, bahwa kurikulum pendidikan dasar Islam memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.   Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuannya.
2.   Meluaskan cakupannnya dan menyeluruh kandungannya, yaitu kurikulum yang benar-benar mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran yang menyeluruh. Di samping itu, ia juga luas perhatiannya.
3.   Bersikap seimbang di antara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan.
4.   Bersifat menyeluluh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.
5.   Kurikulum yang disusun swlalu disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik[13]
Selain memiliki ciri-ciri sebagaimana tersebut di atas, kurikulum pendidikan Islam juga harus memiliki tujuh prinsip sebagai berikut:
1.   Prinsip pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilai-nilai luhur yang berkembang di masyarakat yang sesuai dengan agama.
2.   Prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandunagan kurikulum, yakni mencakup tujuan pembinaan akidah, akal, dan jasmaninya, dan hallain yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangn spritual, kebudaaan, sosial, ekonomi da sebagainya.
3.   Prinsip keseimbangan yang relatif sama antara tujuan-tujuan dan kandunagan kurikulum.
4.   Prinsip keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan pelajar.
5.   Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan indivual di antara para pelajar, baik dari segi minatmaupun bakatnya.
6.   Prinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum[14]
Untuk lebih melengkapi prinsip-prinsip di atas, ada baiknya dilihat prinsip-prinsip kurikulum yang ditawarkan oleh Zakiah Daradjat, yaitu sebagai berikut:
1.   Prinsip relevansi dalam arti kesesuaian pendidikan dalam lingkungan hidup peserta didik, relevansi dengan kehidupan masa sekarang dan akan datang, relevansi denagn tuntutan pekerjaan.
2.   Prinsip efektifitas, baik efektifitas mengajar peserta didik, ataupun efektifitas belajar peserta didik.
3.   Prinsip efisiensi, baik dalam segi waktu, tenaga, dan biaya.
4.   Prinsip fleksibilitas[15].

d.   Materi Kurikulum Pendidikan Dasar Islam dan pendekatan dalam proses pembelajaran
Materi kurikulum pendidikan dasar Islam dapat dibagi dua bagian.
1.   Materi kurikulum potensial dan formal yang terdiri dari:
a.   Praktik keimanan;
b.   Praktik keibadahan;
c.   Praktik keakhlakan;
d.   Praktik keteampilan melakukan pekerjaan sehari-hari;
e.   Keterampilan membaca, menulis, dan berhitung secara sederhana.
2.   Materi kurikulum yang bersifat aktual (hiden curriculum), mewujudkan atmosfer lingkungan yang bernuansa agamis dengan melaksanakan tradisi islam sebagaimana tersebut di atas[16].
Adapun pendekatan dalam proses pembelajarannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1.   Menggunakan pendekatan tematik;
2.   Menggunakan pendekatan rekreatif;
3.   Menggunakan pendekatan pakem; dan
4.   Menggunakan pendekatan pola asuh antara ibu atau bapak dan anak. Ibid., hlm. 132.

2.    Guru Profesional Dalam Islam
Di tengah-tengah terjadinya disorientasi peran dan fungsi guru sebagai akibat dari pengaruh globalisasi yang berbasih pada logika ekonomi kapitalis dan iberalis yang bercocok pragmatis, materialistik, hedonistik dan sekularistik, maka kedepan peran guru dan fungsi guru diarahkan kepada terwujudnya peran sebagai Ulul al-bab, al-ulama, al-muzakki, ahl al-dzikr, dan fi al-‘ilm dengan penjelasan secara singkat sebagai berikut.

a. Konsep Guru dalam Al-Qur’an
1.      Ulul al-Bab
Guru sebagai ulul al-bab adalah orang yang memiliki keseimbangan antara daya fikr dan dzikr, daya nalar dan spiritual. Dengan daya ini, maka seorang guru yang ulul al-bab akan elakukan fungsi amal ma’ruf nahi munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah yang munkar). Dengan fungsi yang demikian, ia akan mengemban misi sebagai pembangunan masa depan peradaban bangsa sebagaimana yang dilakukan para ulama dan ilmuwan di zaman klasik. Visi dan misi ulul al-bab ini sejalan dengan pelaksanaan kompetensi sosial yang di isyaratkan sebagai guru profesional.
2.      Al-Ulama
Seorang guru sebagai al-ulama adalah orang yang mendalami ilmunya melalui kegiatan penelitian terhadap dunia fauna, flora, ruang angkasa, geologi, fisika dan sebagainya yang disertai dengan naluri intuisi dan fitrah batinnya untuk menyadari bahwa alam jagat raya yang dijadikan objek penelitiannya itu adalah bagian dari ciptaan dan tanda kekuasaan Allah. Kesadaran guru sebagai al-ulama ini, akan mengantarkan dirinya memiliki rasa takut menggunakan berbagai teori tersebut untuk tujuan-tujuan yang bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Fungsi keulamaan guru yang demikian itu sejalan dengan kompetensi akademik yang menjadi syarat bagi seorang guru profesional.

3.      Al-Muzakki
Fungsi guru sebagai al-muzakki adalah orang yang memiliki mental dan karakter yang mulia. Sebagai al-muzakki, ia akan membersihkan dirinya dan anak didiknya dari pengaruh negatif  yang merusak akhlak, serta akan menjauhkan dirinya dari berbuat dosa dan maksiat. Fungsi ini sejalan dengan kompetensi kepribadian bagi seorang guru profesional.
4.      Ahl-al-dzikr
Guru sebagai ahl-al-dzikr adalah orang yang menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki peran sebagai expert judgement, yakni keahlian yang diakui kepakarannya, sehingga ia pantas menjadi tempat bertanya, menjadi rujukan dan memiliki otoritas untuk memberikan penilaian dan pengakuan (recognize) atau berbagai temuan ilmiah, serta berbagai prilaku yang dilakukan anak muridnya. Sebagai ahl-al-dzikr, seorang guru memiliki pengalaman yang luas, kemampuan menganalisis dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah yang dibenarkan oleh komunitas ilmiah.

5.      Al-Rasikhuna fi al-‘ilm.
Sebagai al-rasikhuna fi al-‘ilm adalah mereka yang memiliki kemampuan bukan hanya pada dataran fakta dan data, serta seorang guru tidak hanya dapat memahami sesuatu yang bersifat empiris dan eksplisit, melainkan juga menangkap pesan ajaran, spirit, jiwa, hakikat, substansi, inti, dan esensi dari segala sesuatu yang dilihat dan diamatinya. Dengan cara demikian, ia akan mampu mengarahkan murid atau pengikutnya untuk tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat simbolik, ritualistik dan formalistik tanpa makna[17].

b.   Syarat-Syarat Guru Profesional Dalam Islam
Menurut Sulani, Agar tujuan pendidikan tercapai, seorang guru harus memiliki syarat-syarat pokok. Syarat pokok yang dimaksud adalah:
1.         Syarat Syahsiyah (memiliki kepribadian yang diandalkan).
2.         Syarat lmiah (memiliki pengetahuan yang mumpuni).
3.         Syarat Idofiyah (mengetahui, mengahayati, dan menyelami manusia yang dihadapinya, sehingga dapat menyatukan dirinya untuk membawa anak didik menuju tujuan yang ditetapkan).
Guru dalam Islam sebagai pemegang jabatan professional membawa misi ganda dalam waktu yang bersamaan, yaitu misi agama dan misi ilmu pengetahuan. Misi agama menuntut  guru untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran agama kepada murid, sehingga murid dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan norma-norma agama tersebut. Misi ilmu pengetahuan menuntut guru menyampaikan ilmu sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurut Ghofir (Muhammad Nurdin, 2004 158) Untuk mewujudkan misi ini, guru harus seperangkat kemampuan, sikap, dan keterampilan sebagai berikut :
1.         Landasan moral yang kokoh untuk melakukan jihad dan mengemban amanah
2.         Kemampuan mengembangkan jaringan kerjasama/silaturahmi
3.         Membentuk team work yang kompak
4.         Mencintai kualitas yang tinggi.
Dari hasil analisis terhadap sejumlah literature, secara umum syarat profesionalisme guru dalam pandangan Islam adalah :
1.      Bertaqwa
2.      Berilmu Pengetahuan Luas
3.      Berlaku Adil
4.      Berwibawa
5.       Ikhlas
6.      Mempunyai Tujuan yang Rabbani
7.      Mampu Merencanakan dan Melaksanakan Evaluasi Pendidikan
8.      Menguasai Bidang yang Ditekuni

c.    Isyarat Al-Qur’an Tentang Profesionalisme Guru
Di dalam al-Qur’an surat an-Nisa: 58, Allah Swt. menyatakan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.  
Dari ayat 58 surat an-Nisa beserta penjelasan tentang asbab nuzulnya sebagaimana tersebut di atas, terdapat beberapa catatan penting dalam hubungannya dengan profesionalisme sebagai berikut.     
1.  Seorang tenaga yang profesional adalah seoarang yang bersifat al-amin (terpercaya), al-hafidz (dapat menjaga amanah)dan al- wafiyah (yang merawat sesuatau yang baik).
2.  seorang tenaga pendidik profesional dalam pandangan Islam adalah seorang pendidik yang memiliki keahlian
3.  seorang pendidik yang profesional dalam pandangan Islam adalah seorang yang bertindak adil, yakni memberikan hak kepada yang memilikinya dengan cara yang paling efektif atau tidak berbelit-belit[18]  

d.   Langkah-Langkah Mencetak Guru Profesinal
Pembinaan guru yang profesional di zaman Orde Lama dan Orde Baru misalnya, tampak lebih baik dari pada masa sekarang. Hal ini dapat di tunjukkan dengan beberapa catatan sebagai berikut :
1.   Dimasa orla dan orba, setiap orang yang ingin menjadi guru harus lulusan pendidikan keguruan. Untuk menjadi guru SD ada sekolah pendidikan  guru (SPG), ada pula program  D-II PGSD, D-III PGSM. Selanjutnya untuk menjadi guru MI ada pendidikan Guru Agama 4 tahun, Guru SMP 6 tahun
2.   Guna memperoleh kompetensi akademi dan pedagogik yang matang, seharusnya dalam pembinaan tenaga guru dilakukan melalui pendekatan kolaboratif antara fakultas-fakultas non keguruan dengan fakultas keguruan.
3.   Bahwa tenaga pengajar pada pendidikan profesi sebaiknya kaum profesional yang selain memiliki keahlian, kemahiran dan kecakapan, juga memiliki pengalaman praktis dibidangnya.
4.   Bahwa pendidikan calon guru profesional seharusnya dilakukan melalui sistem guru berjenjang dan berantai[19]

3.    Akhlak Mulia untuk Pendidikan Islam
          Sejarah mencatat, bahwa Nabi Muhammad Saw tercatat sebagai Nabi yang berhasil membentuk akhlak mulia. Diantara faktor yang menyebabkan keberhasilan Nabi Muhammad saw dalam bentuk akhlak mulia tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut ;
1.      Mengubah pola pikir umat manusia yang bertumpu pada keharusan mempercayai dan mengikuti perintah Allah dalam arti yang seluas-luasnya.
2.      Memberikan contoh konkret, mempraktekkan dan membiasakan mengikuti perintah Allah sersebut dalam hubungan-Nya dengan berbuat baik kepada sesama manusia, dan dengan alam jagat raya.
3.      Melakukan proses seleksi, akomodasi dan reintegrasi dengan nilai-nilai dan adat istiadat (‘uruf) yang sesuai dan relevan.
4.      Melakukan perubahan,  modifikasi, difusi, pembatalan dan penghapusan terhadap akhlak masa lalu  yang tidak baik dengan cara evolutif.
5.       Berpijak pada konsep fitrah manusia  sebagai makhluk yang mencintai kebaik an (etika), keindahan (estetika), dan  kebenaran (logika).
6.      Memberikan  reward  dan  funishment  secara  bijaksana terhadap setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap  ajaran Tuhan[20]

C. Peningktan Pendidikan Islam Masa Depan
a. Model Pendidikan Islam
          Pendidikan islam yang bertugas pokok menggali, menganalisis, dan mengembangkan serta mengamalkan ajaran islam yang bersumberkan Al-Qur’am dan Hadist, cukup memperoleh bimbingan dan arahan dari kandungan mankna yang terungkap dari kedua sumber tuntutan tersebut. Makna yang komprehensif dari sumber tersebut menjangkau dan melingkupi segala aspek kehidupan manusia modern[21]
          Menurut al-Ghazali, secara potensial pengetahuan itu telah eksis dalam jiwa manusia bagaikan benih yang ada di dalam tanah. Ia memandang bahwa sistem perkembangan kemampuan rasionalitas itu berdasarkan pola keseimbangan dengan kekuasaan Tuhan dan keseimbangan penalaran dengan pengalaman mistik yang memberikan ruang bagi bekerjanya rasio, serta keseimbangan antara berpikir edukatif dengan pengalaman empiris manusia.
  Lebih lanjut Muhammad Abduh lebih mengedepankan kemampuan rasional dalam proses pemahaman ajaran Islam melalui pendidikan. Ia memandang bahwa peranan sistem pendidikan besar sekali bagi proses modernisasi kehidupan umat Islam. Pendidikan harus didasari dengan moral dan agama. Pendidikan agama diintegrasikan ke dalam ilmu pendidikan agama. Pendidikan dipandang sebagai alat yang paling efektif untuk mengadakan pembaruan atau perubahan.
Dengan memperhatikan potensi psikologis dan pedagogis manusia anugerah Allah, model pendidikan Islam seharusnya berorientasi kepada pandangan falsafah sebagai berikut.
1.  Filosofis, memandang manusia didik adalah hamba Tuhan yang diberi kemampuan fitrah, dinamis, dan sosial-religius serta yang psiko-fisik.
2.  Etimologis, potensi berilmu pengetahuan yang berpijak pada iman dan berilmu pengetahuan untuk menegakkan iman yang bertauhid, yang basyariyah dharuriah, manjadi shibghah  manusia muslim sejati berderajat mulia.
3.  Pedagogis, manusia adalah makhluk belajar sejak dari ayunan sampai liang lahat yang proses perkembangannya didasari nilai-nilai islami yang dialogis terhadap tuntutan Tuhan dan tuntutan perubahan sosial, lebih cenderung kepada pola hidup yang harmonis antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, serta kemampuan belajarnya disemangati oleh misi kekhalifahan di muka bumi[22].

b. Perencanaan Program Pendidikan Islam
          Dalam merencanakan program ini perlu kita mengidentifikasi delapan masalah pokok.
a.  Apakah ajaran islam memberikan ruang lingkup untuk berfikir kreatif manusia dan sejauh mana ruang ingkup tersebut diberikan kepada manusia.
b.  Potensi psikologi apa sajakah yang menjadi sasaran pendidikan islam terutama dalam kaitannya dengan kreatifitas yang berhubungan dengan pengembangan iptek
c.  Bagaimanakah system dan metode pendidikan yang tepat gun dalam proses kependidikan islam yang kontekstual dengan iptek.
d.  Keterampilan apa sajakah yang diperlukan anak didik dalam mengelola dan memanfaatkan iptek modern
e.  Sampai berapa jauh anak didik diharapkan mampu mengendalikan dan menangkal dampak negative dari iptek terhadap nilai etika keagamaan islam dan nilai moral dalam kehidupan individu dan sosial
f.   Sebaiknya, apakah nilai moral dan sosial keagamaan mampu memberikan dampak positif terhadap kemajuan iptek tersebut
g.  Kompetensi guru agama yang dapat diandalkan untuk mnghadapi modernitas uamat berkat kemajuan iptek tersebut.
h. Gagasan baru apa sajakah yang harus dirumuskan kembali dalam dalam perencanaan pendidikan jangka panjang dan pendek.yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum nasional pada sekolah umum atau PTU. Serta yang terkait dengan pendidikan pada perguruan agama islam dalam semua jenjang[23].


DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana
Abuddin Nata. 2012. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hamdan  Ihsan  dan  Fuad  Ihsan. 2007.  Filsafat  Pendidikan  Islam, Cet. Ke 3.Bandung : CV. Pustaka Setia.
Majid ‘Irsan al-Kaylani, 1986.  al-Fikr al-Tarbawi ‘inda Ibn Taymiyah, al-Madinah al-Munawarah: Maktabah Dar al-Tarats,
Muajmil Qomar, 2013, Strategi Pendidikan Islam. Jakarta:Erlangga.
Ramayulis. 1994. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Ramayulis. 2006, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. Ke 5, Jakarta: Kalam Mulia
Ramayulis dan Samsul Nizar. 2010. Filasafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta: Kalam Mulia.






[1] Ramayulis. 2006, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. Ke 5, Jakarta: Kalam Mulia. Hal 133
[2] Abuddin Nata, 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana. Hal 28
[3] Ihsan dan Fuad. 2007, Filsafat Pendidikan Islam, Cet. Ke 3. Bandung:Pustaka Setia.  Hal. 68
[4] Majid ‘Irsan al-Kaylani, 1986.  al-Fikr al-Tarbawi ‘inda Ibn Taymiyah, al-Madinah al-Munawarah: Maktabah Dar al-Tarats, hlm. 117-118.
[5] Abuddin Nata, Op.Cit. hal 70
[6] Ibid, hal 102
[7] Ibid
[8] Qomar, 2013, Strategi Pendidikan Islam. Jakarta:Erlangga. Hal 126
[9] Ibid, hal 125-128
[10] Ibid, 143
[11] Ramayulis, Nizar. 2010. Filasafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, Jakarta: Kalam Mulia.  hlm. 192.
[12] Abuddin Nata. 2012. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 123.
[13] Abuddin Nata, op. cit., hlm. 127
[14] Ibid., hlm. 127-128.
[15] Ramayulis, Nizar, op. cit., hlm. 197
[16] Abuddin Nata, op. cit., hlm. 131-132
[17] Abuddin Nata. 2012, Kapita Selekta Pendidikan Islam: Isu-isu Kontemporer tentang Pendidikan Islam, Cet: 1. Jakarta: Rajawali Pers, , Hal: 302-306
[18] Abuddin Nata, Op.Cit. Hal 220-224
[19] Ibid, hal 228
[20] Ibid, Hak 212
[21] Arifin. 2009. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Pt Bumu Aksara. Hal 24
[22] Arifin, Op. Cit 31-32
[23] Ibid. 47-48

Tidak ada komentar:

Posting Komentar