Rabu, 11 Maret 2015

Kapita Selekta Pendidikan





Kapita selekta adalah kumpulan karangan yang masing-masing menguraikan sesuatu persoalan, tetapi persoalan yang diuraikan itu termasuk dalam lingkungan sesuatu ilmu pengetahuan. Ki Hajar Dewantara membagi lembaga pendidikan menjadi 3 lembaga, yaitu : 
         
1. Pendidikan Keluarga

Pendidikan keluarga ialah pendidikan informal merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi kehidupan anak di dalam mendapatkan didikan dan bimbingan. Keluarga merupakan tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia yang masih muda, karena pada usia ini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidiknya. Meliputi  ayah, ibu, kakak, adek dan saudara.

2. Pendidikan Sekolah
Pendidikan sekolah merupakan lanjutan dari pendidikan dalam keluarga. Di samping itu, merupakan jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan dalam masyarakat kelak. Yang dimaksud pendidikan sekolah ini ialah pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat. Sebagai pendidikan Islam formal memiliki tanggung jawab untuk membimbing, mengembangkan dan bertingkah laku sesuai dengan tuntunan Ilahi, yang pada akhirnya akan menemukan makna hidup sesungguhnya.

3. Pendidikan Masyarakat   
Masyarakat adalah lingkungan ketiga setelah keluarga dan sekolah. Pendidikan masyarakat telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.
 



Bentuk-Bentuk Tantangan Yang Dihadapi Dalam Lembaga Pendidikan Islam
       

1.       Tantangan di bidang Sosial-Keagamaan   
Kehidupan social adalah kehidupan yang sangat kompleks. Didalamnya banyak sekali terdapat permasalahan-permasalahan yang tediri dari berbagai macam dan berbagai bentuk. Tantangan sosial keagamaan yang menekankan pada aplikasi dari keberadaan lembaga pendidikan islam itu sendiri.
Sosial keagamaan ini terdiri dari berlapis-lapis masalah yang jika tidak di tanggapi dengan bijaksana maka akan terjadi perpecahan. Keberadaan lembaga pendidikan islam akan benar-benar terasa kehadirannya apabila mampu memaksimalkan potensi kelembagaannya yang tentu salah satu tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang beragama.
Kita lihat dalam kehidupan sehari-hari masih banyak orang yang mengakui beragama islam namun tidak melaksanakannya dengan sempurna, bahkan tidak melaksanakannya sama sekali. Terkadang dalam kehidupan beragamanya baik namun tidak mampu bersosial, atau sebaliknya di dalam kehidupan sosial dapat berbaur dengan baik namun tidak beragama sebagaimana perintah Allah SWT.

1.       Tantangan di Bidang Sistem Nilai
Sistem nilai adalah suatu tumpuan norma-norma yang dipegang oleh manusia sebagai makhluk individual dan sebagai makhluk sosial. Baik itu berupa norma tradisional maupun norma agama yang telah berkembang dalam masyarakat. Sistem nilai juga dijadikan tolak ukur bagi tingkah laku manusia dalam masyarakat yang mengandung potensi mengendalikan, mengatur dan mengarahkan perkembangan masyarakat itu sendiri.
Sistem nilai dijadikan tolak ukur bagi tingkah laku manusia dalam masyarakat yang mengandung potensi pengendali, namun sekarang perubahan itu menghilangkan nilai tradisi yang ada, lembaga pendidikan di sini sangat diperlukan karena salah satu fungsi lembaga pendidikan yaitu mengawetkan sistem nilai yang telah dikembangkan oleh masyarakat.
Sekolah dalam posisi ini, perlu bersikap dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu membudayakan umat manusia dengan nilai-nilai ideal. Sehingga mampu menjadi pondasi moral dan spritual bagi tegaknya masyarakat yang adil dan makmur. Inilah misi lembaga pendidikan kita (Islam) dalam menghadapi tantangan modernisasi yang harus berperan interaktif antara pengaruh kekuatan ideal dari dalam dengan pengaruh realistis dan pragmatis dari luar.

2.       Tantangan di Bidang Ekonomi
Ekonomi merupakan tulang punggung kehidupan bangsa yang dapat menentukan maju mundurnya, lemah kuatnya, lambat cepatnya proses pembudayaan bagi pengaruh kehidupan ekonomi banyak mewarnai cara perkembangan sistem kependidikan dalam masyarakat bangsa.
Kehidupan ekonomi suatu bangsa banyak mempengaruhi pertumbuhan lembaga pendidikan. Bahkan juga mempengaruhi sistem pendidikan yang diberlakukan serta kelembagaan kependidikan yang bagaimana dapat menunjang ataupun mengembangkan sistem ekonomi yang diinginkan. Bila dilihat dari sektor ini, maka problem-problem kehidupan ekonomi perlu dijawab oleh lembaga-lembaga pendidikan.
Apabila dilihat bahwa hasil pendidikan adalah sama prosesnya dengan hasil produksinya tenaga ahli. Maka ukuran ekonomi bagi suatu lembaga pendidikan yang demikian itu adalah suatu hal yang terlalu alistis dan pragmatis. Namun bidang inilah yang saat ini banyak memberikan tantangan kepada lembaga pendidikan kita. Jawaban yang diberikan oleh lembaga kependidikan antara lain tercermin dalam sistem kependidikan serta kurikulum atau program kependidikan yang ditetapkan.

3.       Tantangan di Bidang Politik    
Politik kenegaraan banyak berkaitan dengan masalah bagaimana negara itu membimbing, mengarahkan dan mengembangkan kehidupan bangsa dalam jangka panjang  lembaga pendidikan yang ada didalam wilayah suatu negara merupakan sektor kehidupan budaya bangsa  yang terikat dengan tujuan nasional yang berlandaskan falsafah negaranya.
Lembaga pendidikan yang ada di wilayah suatu negara merupakan sektor perkembangan kehidupan budaya bangsa yang commited (terikat) dengan tujuan perjuangan nasional yang berlandaskan pada falsafah negaranya. oleh karena itu, maka suatu lembaga pendidikan yang tidak bersedia mengikuti politik negaranya, akan merasakan bahwa politik tersebut menjadi pressure (tekanan) terhadap cita kelembagaan tersebut.
Lembaga pendidikan islam harus menghadapi tantangan ini dengan objektif, artinya lembaga pendidikan islam mau tak mau harus mengikuti prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah didalam undang-undang sistem pendidikan nasioanal (UU Sisdiknas) demi mencapai tujuan perjuangan nasional bangsa
Label sebagai institusi pendidikan Islam ikut mempengaruhi persepsi publik terhadap posisi lembaga pendidikan Islam dalam konteks perubahan sosial politik. Ironisnya, lembaga pendidikan Islam kerap dijadikan “kendaraan” oleh para petualang politik mencari dukungan. Setelah dukungan suara didapatkan, kenyataannya lembaga pendidikan Islam tadi tetap tidak banyak berubah. Realitas seperti ini dikhawatirkan memandulkan gerak pendidikan agama Islam.

4.       Tantangan di Bidang Pengetahuan dan Teknologi
Teknologi sebagai ilmu terapan merupakan hasil kemajuan kebudayaan manusia, yang banyak bergantung pada manusia yang menggunakannya, dan lembaga pendidikan kita dituntut agar mampu mendasari teknologi tersebut dengan norma-norma agama sehingga hasil teknologi manusia berdampak positif bagi kehidupan.
Kemajuan dibidang teknologi ini pada akhirnya akan berpengaruh pada kejiwaan dan kepribadian masyarakat. Pada era informasi ini yang sanggup bertahan hanyalah mereka yang berorientasi ke depan, yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan. Oleh karena itulah dunia pendidikan Islam di masa sekarang benar-benar dihadapkan pada tantangan yang cukup berat.
Untuk mengantisipasinya maka dilakukan upaya yang strategis, antara lain; tujuan pendidikan di masa sekarang tidak cukup hanya dengan memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, keimanan, dan ketakwaan saja. Tetap juga harus diarahkan pada upaya melahirkan manusia yang kreatif, inovatif, mandiri dan produktif, mengingat dunia yang akan datang adalah dunia kompetitif.

6. Tantangan di Bidang Kebudayaan

Kebudayaan yang baik tentu tidak menjadi masalah, bahkan menjadikan bangsa ini kaya akan budaya serta menambah kreativitas lembaga-lembaga pendidikan. Tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan Islam ialah kebudayaan yang membawa dampak buruk (merusak cita-cita dan nilai-nilai Islam), seperti budaya yang menekankan pada materialistik dan hedonistik. Contoh kecil ialah trend seks bebas yang berkembang sekarang ini.
Suatu perkembangan kebudayaan dalam abad modern saat ini tidak dapat terhindar dari pengaruh kebudayaan bangsa lain. Kondisi semacam ini menyebabkan proses akulturasi, yaitu faktor nilai yang mendasari  kebudayaannya sendiri sangat menentukan keeksistensian kebudayaan tersebut. Dalam menghadapi hal yang tidak diinginkan, dibutuhkan sikap kreatif dan wawasan pengetahuan yang dapat menjangkau masa depan bagi eksistensi kebudayaan dan kehidupannya.

7.       Tantangan di Bidang Kemasyarakatan     
Perubahan yang terjadi dalam sistem kehidupan sosial sering kali mengalami ketidak pastian tujuan serta tak terarah tujuan yang disepakati. Di sinilah pendidik sebagai pengarah yang rasional dan konstruktif, sehingga problem-problem sosial dapat dipecahkan mengingat lembaga pendidikan Islam sebagai lembaga kemasyarakatan yang berfungsi sebagai perubahan sosial
Kemasyarakatan merupakan suatu lapangan hidup manusia yang mengandung ide-ide yang sangat laten terhadap pengaruh kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai sistem kehidupan, kemasyarakatan tidak statis, melainkan cenderung berkembang secara dinamis. Tugas lembaga pendidikan Islam sebagai pemberi arah yang jelas terhadap perubahan yang ada di masyarakat, karena perubahan yang terjadi dalam sistem kehidupan sosial seringkali mengalami ketidak pastian tujuan.     
Dalam menghadapi tantangan yang ada dalam pendidikan, ada beberapa sikap yang dapat kita lakukan dalam mengatasi tantangan tersebut.

1.       Sikap tak acuh terhadap tantangan perubahan sosial
Sikap ini  perlu ditanamkan pada anak didik dalam lembaga pendidikan, karena tugas manusia dalam hidup ini adalah berusaha mendapatkan kebenaran yang nyata serta membiarkan semua hal itu terjadi karena hal itu sudah menjadi ketentuan dari Allah. Sebagai pendidik kita harus senantiasa memberikan motivasi kepada anak agar selalu semangat dalam menuntut ilmu. Dengan begitu anak akan senang dengan pendidikan tidak bersikap acuh tak acuh terhadap pendidikan.
2.       Sikap mengakui adanya perubahan sosial, tetapi menyerahkan pemecahannya kepada orang lain
Kita menyadari bahwa ada banyak perubahan sosial yang terjadi di masyarakat saat ini. Namun tidak semua permasalahan itu harus diselesaikan oleh lembaga pendidikan yang ada di masyarakat itu. Cukuplah masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan saja yang akan kita selesaikan.

3.       Sikap yang Mengindentifikasikan Perubahan dan Berpartisipasi dalam perubahan itu.
Lembaga pendidikan bertugas untuk mengenalkan kehidupan masyarakat kepada anak didiknya agar mengenal realitas yang ada, dan membuatnya mampu menghayati perubahannya, bagaimana watak dan ciri cirinya. Serta mengenal metode apa yang baik untuk menanganinya. Lembaga pendidikan terutama sekolah berkewajiban untuk memajukan pendidikan yang ada di masyarakat serta ikut serta dalam menyelesaiakan masalah tentang pendidikan yang ada di masyarakat.              

4. Sikap Selektif dalam Menerima atau Menolak Kebudayaan Asing
Sikap selektif merupakan sikap kreatif yang hati-hati berdasarkan atas pertimbangan baik buruk bagi perkembangannya lebih lanjut. oleh karena itu memerlukan pengetahuan yang mendalam dan wawasan yang menjangkau kemasa depan bagi eksisntensi hidupnya. Dengan begitu kita akan mengetahui mana yang lebih baik untuk kita berikan kepada anak didik. Sehingga anak didik kita akan memperoleh pendidikan yang baik dan bukan hanya asal-asalan.

5.  Sikap Yang Lebih Aktif Yaitu Melibatkan Diri Dalam Perubahan Sosial Dan Menjadikan Dirinya Sebagai Pusat Perubahan Sosial.
          Sikap seperti ini harus kita tanamkan kepada anak didik agar ketika berapa di tengah-tengah masyarakat ini dapat menjadi contoh perubahan yang ada di lingkungan masyarakatnya.  lembaga pendidikan tidak hanya bergerak sepanjang waktu, melainkan juga perlu menyesuaikan cara perubahan sosial dengan tuntutan masyarakat yang ada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar